Dampingi Nyadran di Petilasan Mbah Jobeh, GPM Gunungkidul: Rawat Budaya, Bumikan Marhaenisme

Ismet NM Haris

Yogyapos.com (GUNUNGKIDUL) – Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kabupaten Gunungkidul turut mendampingi warga Kalurahan Petir dalam pelaksanaan upacara adat Nyadran di Petilasan Mbah Jobeh. Tokoh tersebut dikenal sebagai cikal bakal pendiri Desa Petir.

Ketua DPC GPM Gunungkidul, Suradi, mengatakan keterlibatan GPM dalam tradisi masyarakat bukan sekadar menghadiri kegiatan adat, tetapi bagian dari upaya membangun gerakan yang berakar pada kehidupan rakyat.

“GPM harus hadir di tengah-tengah rakyat, memahami kehidupan, tradisi, dan kebudayaan yang tumbuh di masyarakat. Kebudayaan adalah bagian penting dari identitas dan kepribadian bangsa. Karena itu, kami ingin GPM Gunungkidul tidak berjarak dengan masyarakat,” kata Suradi.

Menurutnya, tradisi Nyadran memiliki nilai sosial dan kebudayaan yang penting karena menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempererat hubungan antargenerasi, menghormati leluhur, serta merawat sejarah dan identitas lokal.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina GPM Gunungkidul, Sigit, menyampaikan bahwa keterlibatan GPM dalam kegiatan kebudayaan merupakan implementasi dari ajaran Bung Karno, khususnya prinsip Trisakti, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

“Bung Karno mengajarkan kepada kita bahwa bangsa yang besar harus memiliki kepribadian dalam kebudayaan. Karena itu, kebudayaan rakyat tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang sekadar seremonial. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, persaudaraan, penghormatan terhadap sejarah, dan jati diri masyarakat,” kata Sigit.

Ia menegaskan, GPM Gunungkidul akan semakin mengembangkan pendekatan kebudayaan sebagai salah satu strategi untuk membumikan Marhaenisme di Kabupaten Gunungkidul.

Menurut Sigit, Marhaenisme tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum-forum diskusi atau ruang kaderisasi, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Nilai-nilai kerakyatan, gotong royong, kemandirian, penghormatan terhadap tradisi, serta keberpihakan kepada masyarakat kecil harus menjadi praktik nyata gerakan.

“Ke depan, GPM Gunungkidul akan lebih banyak menggunakan pendekatan kebudayaan untuk membumikan Marhaenisme. Kita masuk melalui ruang-ruang kebudayaan masyarakat, karena di sanalah kita menemukan nilai-nilai kerakyatan yang sesungguhnya,” tegasnya. (Eko Purwono)

Share This Article
Ismet NM Haris
Editor Ismet NM Haris

little baby

Leave a Comment