Festival Sastra Yogyakarta Ajak Masyarakat Jalani Sastra Sebagai Laku

Ismet NM Haris

Yogyapos.com (YOGYA) – Sastra tidak selalu harus hadir dalam bentuk buku yang tersusun rapi di rak. Ia hidup ketika seseorang membaca, menulis, berdiskusi, mengajarkan, hingga memperbincangkan karya bersama orang lain.

Semangat itulah yang dibawa Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026. Mengangkat tema “LAKU”, festival ini mengajak masyarakat melihat sastra bukan sekadar karya yang sudah jadi, tetapi sebagai proses yang terus dijalani dalam kehidupan.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan, tema “LAKU” dimaknai sebagai perjalanan sekaligus praktik. Menulis merupakan laku, membaca merupakan laku, begitu pula mengkaji, mengkritik, mengajarkan, menerbitkan, dan mendistribusikan buku.

“Festival Sastra Yogyakarta merupakan agenda kebudayaan Pemerintah Kota Yogyakarta yang secara khusus menjadi ruang apresiasi, pengembangan, dan pertemuan berbagai ekosistem sastra,” kata Yetti.

Menurutnya, FSY tidak dirancang semata sebagai festival pertunjukan. Festival tersebut menjadi ruang pertemuan penulis, sastrawan, akademisi, penerbit, komunitas, pelaku budaya, hingga masyarakat pembaca.

Melalui tema “LAKU”, FSY 2026 ingin memperluas pembicaraan mengenai sastra. Tidak hanya berhenti pada karya, tetapi juga melihat berbagai praktik dan ekosistem kesusastraan yang berkembang di masyarakat.

“Dengan tema LAKU, FSY 2026 ingin memperluas pembicaraan tentang sastra, dari sekadar karya menuju ekosistem dan praktik kesusastraan yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Festival yang berlangsung pada 23-30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta itu menghadirkan berbagai kegiatan. Mulai dari pasar buku sastra, bedah buku, diskusi, workshop penulisan, pameran apresiasi karya sastra, poetry jam, haul sastrawan Yogya, orasi budaya, hingga seminar nasional.

Pasar Buku Sastra menjadi salah satu ruang yang mempertemukan penerbit, penulis, komunitas dan pembaca. Bekerja sama dengan IKAPI DIY, FSY menghadirkan ribuan judul buku dari berbagai penerbit dengan harga khusus selama festival.

Namun, pasar buku tersebut tidak sekadar menjadi ruang transaksi. Di dalamnya juga tersedia panggung diskusi yang membicarakan sastra dan buku. Dengan begitu, pertemuan antara buku dan pembacanya menjadi bagian dari ekosistem literasi.

Semangat serupa juga terlihat dalam panggung pertunjukan. Pada pembukaan FSY, Minggu (23/8/2026), akan digelar orasi budaya bertema “Sastra sebagai Laku Akademik dan Laku Hidup”.

Anak-anak pemenang kompetisi bahasa dan sastra yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga akan tampil. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya memperluas regenerasi dan apresiasi sastra sejak usia dini.

Antusiasme terhadap festival bahkan telah terlihat melalui Sayembara Puisi Nasional FSY 2026. Hingga Rabu (19/8/2026), sekitar 2.500 karya puisi dari penulis berbagai daerah di Indonesia telah diterima dan jumlahnya masih terus bertambah.

Sementara pada panggung penutupan, Sabtu (29/8/2026), FSY akan menggelar Malam Anugerah Sayembara Puisi Nasional. Acara tersebut juga akan menghadirkan Dee Lestari dan Kiai Kanjeng.

Yetti menambahkan, FSY 2026 juga berupaya mempertemukan sastra Indonesia dan sastra Jawa dalam satu ruang. Keduanya tidak ditempatkan sebagai dua wilayah yang terpisah, melainkan bagian dari ekosistem sastra Yogyakarta yang dapat saling berinteraksi dan memperkaya.

“Yogyakarta memiliki posisi penting dalam perkembangan kedua tradisi sastra tersebut,” katanya.

Menurut Yetti, penyelenggaraan festival juga tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Komunitas, sastrawan, akademisi, penerbit, media, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menghidupkan ekosistem sastra.

Karena itu, FSY 2026 diarahkan sebagai kerja bersama. Festival diharapkan tidak berhenti setelah rangkaian kegiatan selesai, tetapi mampu melahirkan kolaborasi, jejaring, dan gagasan baru yang terus berjalan.

“FSY tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan sebuah kegiatan selama delapan hari, tetapi juga untuk memperkuat ekosistem sastra yang sudah tumbuh di Yogyakarta,” ujar Yetti.

Pada akhirnya, sastra dalam FSY 2026 ingin didekatkan kembali dengan kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sesuatu yang dibaca atau dipentaskan, melainkan laku yang terus berlangsung, dari penulis kepada pembaca, dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Jauh Hari Wawan S)

Share This Article
Ismet NM Haris
Editor Ismet NM Haris

little baby

Leave a Comment