Yogyapos.com (SLEMAN) – Sebanyak 40 pemuda duduk melingkar berdiskusi tentang, puisi, novel, dan masa depan sastra. Mereka membawa pikiran dan menumpahkan keresahan masing-masing dalam kata yang disusunnya menjadi paragraf.
Sabtu (15/8) malam, puluhan pemuda itu tengah merekonstruksi semangat perlawanan WS Rendra melalui Kemah Sastra. Di Pondok A. Salam Kalimasada, Pakem, Sleman, selama dua hari mereka ikut ambil bagian dalam sejarah Kemah Sastra yang lebih revolusioner.
“Pada 14-15 Agustus 2026, Magister Sastra UGM menyelenggarakan Kemah Sastra. Kemah Sastra ini bersifat pengabdian, tidak berbayar, tidak komersial. Kemah Sastra bukan hal baru,” kata penggagas Kemah Sastra, Prof Aprinus Salam.
Aprinus bercerita, pada tahun 1971, Rendra telah melakukan Kemah Sastra di Parangtiris Yogya. Tapi, kata guru besar UGM itu, kemah Rendra lebih dimaksudkan sebagai ruang perlawanan.
Kemah Sastra Rendra lebih sebagai ruang perlawanan terhadap kehidupan modern yang semakin menyepelekan sastra, seni, dan kebudayaan. Kemah Sastra Magister Sastra UGM lebih kompleks dibanding zaman Rendra.
“Jadi, kemah sastra, seperti dulu pernah digagas oleh Rendra, memang harus berbeda dengan berbagai kegiatan kumpul-kumpul lainnya. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, kita selalu berkegiatan, tapi mungkin tidak bisa disebut sebagai kegiatan sastra,” ucapnya.
Di Yogya, memang banyak peristiwa baca puisi, baca cerpen, dan sebagainya. Namun, tetap saja berbeda dengan Kemah Sastra.
“Kemah Sastra Magister Sastra ini diikuti dari berbagai daerah di Indonesia, dan sebagai besar mereka masih sangat muda dan belum dikenal dalam dunia sastra,” katanya.
Setiap peserta, direkrut dengan cara menyerahkan minimal 1 cerpen dan 5 puisi. Hasilnya terkurasi 40 orang peserta. Lalu apa hasil Kemah Sastra ini? Tentu antologi karya para peserta.
“Buku antologi cerpen/puisi akan diterbitkan sementara dalam bentuk buku foto kopi sejumlah yang dibutuhkan. Ke depan, jika buku tersebut dinilai baik, akan diuruskan ISBN-nya,” pungkasnya. (Har)
