Yogyapos.com (YOGYA) – Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Yogyakarta kembali menghadirkan Festival Prawirotaman 2026. Acara yang berlangsung dari 22-23 Agustus ini menjadi ruang pamer bagi desainer dan pembatik dari generasi muda untuk menampilkan karyanya.
Festival Prawirotaman 2026 menghadirkan beragam kegiatan, salah satunya Fashion on the Street. Dengan mengusung tema ‘Contemporary Art Batik Evolution – Milenial Batik Revolution’, tak kurang dari 40 desainer yang ikut ambil bagian.
Mereka bukan hanya berasal dari Yogya, namun dari berbagai wilayah lain di Indonesia. Seperti Tirsa dari Denpasar, Sanet dari Malang, dan Mega dari Surabaya. Sementara desainer muda Yogyakarta yang turut berkontribusi antara lain Rony Bilardo, Prita, Laili, Didi Warsito, dan Putri Ramadhani.
Founder dan Inisiator Fashion on the Street Prawirotaman, Lia Mustofa mengadakan, kegiatan tersebut telah diselenggarakan untuk ke-11 kalinya. Awalnya, Fashion on the Street merupakan tugas akhir anak didiknya. Namun, konsep tersebut berkembang karena karakter Prawirotaman sebagai kampung wisatawan dan kampung batik.
“Karena mungkin vibe-nya kampung wisatawan, kemudian punya cerita di balik itu tentang kampung batik. Itu yang membuat akhirnya ter-branding lebih baik,” katanya.
Ia menyebutkan, Fashion on the Street juga melibatkan generasi muda, baik sebagai desainer maupun model. Beberapa wisatawan dan mahasiswa dari luar negeri turut ambil bagian, di antaranya dari Belanda, Jepang, dan Korea.
“Kami memang mengkhususkan para desainer dan modelnya adalah generasi muda. Ingin ada keberlanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga terus melakukan pendampingan terhadap desainer dan pembatik muda. Bersama Dekranas dan Bank Indonesia KPw DIY, pendampingan saat ini telah memasuki angkatan ketiga dengan melibatkan sekitar 25 desainer dan pembatik muda.
“Harapannya Jogja Kota Batik Dunia. Salah satu unsur yang harus dipertanggungjawabkan agar penghargaan Kota Batik ini tetap terjaga adalah mampu meregenerasi generasi muda. Ini mungkin adalah sumbangsih kami untuk Kota Jogja,” jelasnya.
“Harapannya dari tradisi menjadi modern tetap terjaga. Meskipun milenial batik revolution berjalan cepat, kita tidak bisa menghindari teknologi. Ada percepatan dalam membuat desain, tetapi batiknya tetap terjaga secara tradisi,” imbuhnya.

Upaya Dongkrak Kunjungan Turis Asing
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati mengatakan, Festival Prawirotaman menjadi salah satu upaya untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara. Hal tersebut menjadi tantangan bagi Kota Yogyakarta mengingat jumlah wisatawan nusantara jauh lebih besar dibandingkan wisatawan mancanegara.
Berdasarkan data hingga 31 Desember 2025, kunjungan wisatawan mancanegara ke Kota Yogyakarta berada di kisaran 316 ribu orang. Sementara kunjungan wisatawan nusantara mencapai sekitar 11 juta orang.
Ia menambahkan, Festival Prawirotaman juga telah masuk dalam kalender event Kota Yogyakarta. Ia berharap penyelenggaraan festival tersebut dapat terus diperkuat sehingga mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara dari tahun ke tahun.
Festival Prawirotaman sekaligus menjadi pemanasan menuju puncak HUT ke-270 Kota Yogyakarta pada 7 Oktober 2026. Pada momentum tersebut, Pemkot Yogyakarta akan kembali menyelenggarakan Wayang Jogja Night Carnival ke-10.
Menurutnya, sebagai kawasan yang identik dengan wisatawan mancanegara atau sering disebut sebagai “kampung bule”. Selain Prawirotaman, kawasan Sosromenduran dan Sosrowijayan juga dikenal sebagai kawasan internasional di Kota Yogyakarta.
Festival Prawirotaman diharapkan menjadi salah satu daya tarik yang mampu menjaring lebih banyak wisatawan mancanegara, terutama karena periode Juli dan Agustus menjadi salah satu masa tingginya kunjungan wisatawan asing ke Yogyakarta. (Jauh Hari Wawan S)
