Karnaval HUT RI Biasanya Angkat Legenda, Warga Condongcatur Pilih Kampanye ‘Beli dari Tetangga’

Ismet NM Haris

Yogyapos.com (SLEMAN) – Karnaval dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia umumnya identik dengan pakaian adat Nusantara, tokoh perjuangan, hingga cerita dan legenda dari berbagai daerah. Namun, pemandangan berbeda terlihat dalam karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Perumnas Condongcatur, Depok, Sleman.

Alih-alih mengangkat tema adat dan legenda, warga RT 07/RW 22 memilih membawa persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni keberlangsungan usaha kecil dan ekonomi warga. Kelompok yang berjumlah sedikitnya 40 orang ini mengusung tema “Support UMKM Lokal”.

Berbagai usaha yang sehari-hari ditemui di lingkungan sekitar ditampilkan dalam karnaval tersebut. Mulai dari gerobak angkringan, pedagang sayuran, jajanan pasar, hingga penjual kacamata menjadi bagian dari atraksi warga.

Bagi warga, pilihan tema tersebut bukan sekadar konsep karnaval. UMKM merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang secara langsung dirasakan masyarakat. Karena itu, warga ingin menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang untuk menyampaikan pesan bahwa menguatkan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Pesan tersebut kemudian diperkuat dengan slogan “Warga Jaga Warga” dan sejumlah poster yang dibawa sepanjang karnaval, seperti “Beli dari Tetangga”, “Warga Butuh Pasar, Bukan Sekadar Pujian”, dan “Tetangga Beli dari Kita”.

Karnaval warga Condongcatur membawa pesan “Warga Jaga Warga” || YP-Ist

Ketua RT 07/RW 22 Perumnas Condongcatur, Ricky Saputra mengatakan, melalui pesan tersebut, warga ingin mengajak masyarakat untuk melihat kembali kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Membeli makanan dari tetangga, berbelanja kebutuhan di warung sekitar, atau menggunakan jasa warga lain di lingkungan sendiri dinilai sebagai bentuk dukungan nyata terhadap ekonomi lokal.

“Kami inginnya membawa sesuatu yang benar-benar dirasakan warga. Ketika kondisi ekonomi sedang tidak mudah, kami berpikir apa yang bisa dilakukan dari lingkungan paling dekat? Salah satunya ya saling menguatkan. Kalau ada tetangga yang punya usaha, sebisa mungkin kita beli dari mereka,” ucap Ricky.

Dalam karnaval tersebut, warga juga membawa “Nota Kemerdekaan RT 07” berukuran besar. Nota tersebut berisi sejumlah pesan, di antaranya “dibeli dari tetangga”, “diproduksi warga”, “dipromosikan warga”, “dikerjakan bersama”, hingga “keuntungan kembali ke warga”.

Bagi warga, konsep tersebut menjadi cara untuk memaknai kemerdekaan dari sudut pandang yang sederhana. Kemerdekaan tidak hanya dimaknai melalui perayaan 17 Agustus, tetapi juga sebagai upaya membangun kemandirian dan keberdayaan masyarakat dari lingkungan terkecil.

“Menurut kami, merdeka bukan cuma bebas. Warga juga harus punya daya. Kalau kita bisa menggerakkan ekonomi dari lingkungan sendiri, saling membeli, saling mempromosikan, dan saling menjaga, itu juga bagian dari semangat kemerdekaan,” lanjutnya.

Peserta karnaval Condongcatur membawa pesan dukungan untuk UMKM lokal || YP-Ist

Konsep yang dibawa RT 07/RW 22 tersebut berhasil meraih juara III dalam karnaval kemerdekaan. Meski tidak mengandalkan kostum adat atau kemegahan dekorasi, warga memilih menjadikan karnaval sebagai ruang untuk membawa pesan yang dekat dengan realitas kehidupan mereka.

Bagi warga, penghargaan tersebut menjadi bonus. Yang lebih penting adalah pesan tentang saling menguatkan dan mendukung usaha warga dapat tersampaikan kepada masyarakat yang menyaksikan karnaval. (Eko Purwono)

Share This Article
Ismet NM Haris
Editor Ismet NM Haris

little baby

Leave a Comment