Sempat Terendam Luapan Sungai Opak, Petani Bawang Merah Bantul Rugi Puluhan Juta

Ismet NM Haris

Yogyapos.com (BANTUL) – Lebih dari 200 ru lahan bawang merah di kawasan Baros, Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, terancam gagal panen setelah terendam luapan Sungai Opak. Kondisi tersebut terjadi akibat muara sungai yang tersumbat pasir selama beberapa hari.

Akibat kejadian itu, petani bawang merah diperkirakan mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Salah satu petani bawang merah yang lahannya terendam, Ngadiyo (60), warga Baros, Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, mengatakan tanaman bawang merah mulai terendam air sejak Selasa (11/8/2026).

"Air kemudian surut mulai Kamis (13/8/2026) kemarin atau sudah terendam air selama lebih dari dua hari. Tanaman bawang merah tidak kuat jika terendam air dan dipastikan akan lonyot dan mati," ujarnya, Jumat (14/8/2026).

Ngadiyo mengaku menanam lebih dari 20 ru bawang merah yang kini berusia sekitar 40 hari dan tinggal menunggu sekitar 20 hari untuk dipanen. Namun, karena muara sungai tersumbat, aliran Sungai Opak menuju laut terhambat hingga debit air meluap ke areal pertanian.

"Ya, saat ini meski air sudah surut, tanaman bawang saya sudah mulai layu, daun menguning dan dipastikan mati," ungkapnya.

"Ya kalau 200 ru lebih, saya bisa rugi hingga Rp 70 juta, bahkan bisa lebih jika harga bawang merah sedang bagus," tambahnya.

Petani bawang merah lainnya, Turbin (55), mengaku juga mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat tanaman bawang merah miliknya terendam banjir luapan Sungai Opak. Banjir terjadi setelah muara sungai tertutup pasir.

"Ya rugi puluhan juta, padahal tinggal 10 hari lagi sudah bisa dipanen," ujarnya.

Turbin mengatakan meski sumbatan sudah dibuka dan aliran Sungai Opak kembali mengalir ke laut, potensi muara tersumbat kembali cukup besar saat terjadi gelombang pasang dan tiupan angin kencang.

"Gelombang pasang membawa air dan pasir sehingga bisa kembali menutup sumbatan, sehingga potensi air Sungai Opak meluap ke lahan pertanian bisa terjadi kembali. Ini sebenarnya fenomena tahunan, namun kok pemerintah kurang tanggap," tambahnya. (Dwa)

Share This Article
Ismet NM Haris
Editor Ismet NM Haris

little baby

Leave a Comment