Yogyapos.com (SLEMAN) – Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) bersama Universitas Sanata Dharma (USD) menjadi tuan rumah 32nd ASEACCU General Assembly and Conference.
Rangkaian hari pertama kegiatan pada Kamis (19/08/2026) diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC di Kapel St Robertus Bellarminus, Universitas Sanata Dharma.
Kegiatan ini diikuti oleh 257 peserta yang merupakan delegasi dari sekitar 60 institusi pendidikan tinggi di kawasan Asia, Asia Tenggara, dan Australia.
Setelah Perayaan Ekaristi, rangkaian kegiatan dilanjutkan di Auditorium Driyarkara, USD, dengan agenda pembukaan konferensi. Pembukaan ditandai dengan pembunyian mainan tradisional othok-othok oleh para delegasi sebagai simbol dimulainya ASEACCU Conference.
Rektor USD, Rm. Albertus Bagus Laksana SJ PhD, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi Katolik, termasuk kolaborasi bersama UAJY, dalam menjaga harapan dan memanusiakan manusia melalui dialog antar budaya di tengah krisis global serta tantangan era kecerdasan buatan.
Mengutip pesan Paus Fransiskus, ia mengajak seluruh delegasi untuk senantiasa mengedepankan keterbukaan dan budaya perjumpaan.
“Isolasi dan menarik diri demi kepentingan pribadi bukanlah cara untuk memulihkan harapan. Sebaliknya, kedekatan dan budaya perjumpaanlah yang menjadi kuncinya,” tegasnya.
Agenda dilanjutkan dengan Keynote Speech oleh Professor Zlatko Skrbis yang mengangkat tema “The Good Life (Individual Flourishing)”. Bahwa human flourishing atau kesejahteraan manusia merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan waktu, konsistensi, dan refleksi.
Di tengah perkembangan AI, menurutnya, tantangan utama bukan hanya terkait kemampuan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan teknologi tetap menghormati martabat dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kebijaksanaan, serta kemampuan mengambil keputusan melalui relasi, kebersamaan, dan pembelajaran lintas disiplin yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh AI. Karena itu, kolaborasi global dan investasi di bidang pendidikan diperlukan untuk mewujudkan kehidupan manusia yang lebih sejahtera.
Pembahasan mengenai human flourishing kemudian diperdalam melalui Panel Discussion I bertajuk “Human Flourishing”. Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi Panel Discussion I yang mengangkat tema “Human Flourishing”. Diskusi ini dimoderatori oleh Rev Fr Gilbert B Sales (Presiden Saint Louis University, Filipina) dengan menghadirkan tiga panelis, yakni Rev Fr Joseph Chacko Chennattuserry (Wakil Rektor Christ University, India), Rev Choi Jun-gyu (Presiden The Catholic University of Korea, Korea Selatan), serta Prof Peter Yao-Tang Lin (Wakil Presiden Wenzao Ursuline University of Languages, Taiwan).
Para panelis membahas berbagai perspektif dan praktik perguruan tinggi dalam mendorong manusia mencapai potensi secara utuh. Diskusi juga menyoroti bagaimana perguruan tinggi dapat terus berkontribusi terhadap pengembangan manusia di tengah perubahan dan tantangan pendidikan tinggi global.
Memasuki sesi Panel Discussion II bertajuk “Intercultural Encounter and Dialogue”, diskusi dipandu langsung oleh Rektor UAJY, Dr G Sri Nurhartanto SH LLM. Diskusi ini menghadirkan sejumlah pimpinan perguruan tinggi Katolik dari berbagai negara di Asia.
Pada sesi ini, Rev Fr Robert Kisala, SVD (Presiden Nanzan University, Jepang) menekankan prinsip 3D (Dignity, Diversity, Dialogue) melalui penyediaan ruang perjumpaan lintas budaya dan penguatan kolaborasi internasional. Sementara itu, Fr Winai Boonlue SJ PhD (Wakil Presiden Saengtham College Xavier Campus Chiang Rai, Thailand) menyoroti pentingnya merangkul kelompok minoritas serta suku pedalaman yang terpinggirkan melalui akses pendidikan bermartabat dan transformatif.
Melengkapi diskusi, Dr Phon Sophal (Direktur Saint Paul Institute, Kamboja) menegaskan komitmen lembaganya dalam merawat kerukunan antar agama serta memberdayakan kaum muda rentan.
"Mari kita tetap berkomitmen untuk mendidik generasi muda yang memandang perbedaan budaya bukan sebagai sekat yang menakutkan, melainkan sebagai undangan untuk berjumpa, berdialog, belajar, dan berkembang bersama," pesannya.
Agenda kemudian berlanjut dengan sesi Board Meeting yang dihadiri oleh jajaran rektor dan pimpinan universitas anggota ASEACCU. Bersamaan dengan itu, kegiatan dibagi ke dalam dua agenda terpisah, para dosen dan staf fakultas mengikuti rangkaian campus tour di USD Kampus Mrican, sementara para delegasi mahasiswa berpartisipasi aktif dalam sesi workshop interaktif yang berlokasi di USD Kampus Paingan guna memperdalam keterampilan kepemimpinan serta kolaborasi lintas budaya.
Sebagai wujud komitmen nyata dari pertemuan tersebut, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara berbagai universitas yang tergabung di dalam ASEACCU. Penandatanganan nota kesepahaman ini menandai peresmian berbagai kerja sama langsung antar perguruan tinggi anggota ASEACCU.
Sebagai penutup seluruh rangkaian acara hari pertama, seluruh delegasi kemudian berkumpul kembali di USD Kampus Paingan untuk mengikuti agenda gala dinner. Jamuan makan malam bersama ini menjadi momen keakraban yang mempertemukan seluruh pimpinan universitas, dosen, staf fakultas, serta delegasi mahasiswa guna mempererat kebersamaan. (Agung DP)
